Kegiatan berbagi makanan di bulan suci sering kali mencapai puncaknya pada minggu-minggu terakhir Ramadan. Salah satu tujuan yang paling populer adalah panti asuhan. Namun, sebuah refleksi mendalam muncul dari gerakan tebar buka puasa yang diinisiasi oleh kelompok pemuda peduli sosial: apakah kehadiran kita sudah cukup jika hanya datang sekali setahun? Melalui program ini, mereka mencoba mengedukasi masyarakat mengenai esensi dari pendampingan anak yatim yang seharusnya dilakukan secara berkelanjutan, bukan sekadar ritual tahunan yang bersifat seremonial.
Panti asuhan sering kali mengalami “banjir bantuan” pada bulan Ramadan, namun mengalami kekosongan perhatian di bulan-bulan lainnya. Inilah alasan utama mengapa panti asuhan memerlukan kehadiran donatur dan relawan secara lebih rutin. Dengan melakukan aksi buka puasa yang terjadwal dan terencana, mahasiswa dan komunitas ingin menunjukkan bahwa perhatian terhadap anak-anak di sana tidak boleh terputus. Anak-anak panti membutuhkan stabilitas, baik dalam hal dukungan logistik maupun dukungan moral dan emosional yang konsisten untuk perkembangan psikologis mereka.
Dalam setiap kunjungan, agenda yang dibawa tidak hanya terfokus pada pemberian makanan berat. Para relawan merancang aktivitas yang interaktif, seperti berbagi cerita motivasi, permainan edukatif, hingga sesi mentoring singkat. Pendekatan ini membuat anak-anak merasa benar-benar dihargai sebagai individu, bukan hanya sebagai objek penerima sedekah. Kebutuhan akan interaksi sosial yang berkualitas inilah yang mendasari argumen mengapa mereka butuh kita lebih sering. Kehadiran sosok kakak asuh dari kalangan mahasiswa memberikan gambaran masa depan dan semangat bagi anak-anak panti untuk tetap bersekolah setinggi mungkin.
Logistik dalam program tebar buka puasa ini juga dikelola dengan prinsip kemanfaatan jangka panjang. Selain memberikan hidangan siap saji, kelompok mahasiswa ini juga menyalurkan bahan pangan pokok yang bisa disimpan untuk kebutuhan beberapa minggu ke depan. Hal ini sangat membantu pengelola panti dalam mengatur anggaran operasional harian mereka. Kesadaran untuk memberikan bantuan yang solutif ini lahir dari pengamatan mendalam terhadap pola konsumsi dan kebutuhan mendasar panti asuhan yang sering kali terabaikan di tengah euforia berbagi yang tidak terorganisir.