Penyelenggaraan turnamen ini berhasil menarik ratusan peserta dari berbagai perguruan tinggi. Namun, yang membedakan kompetisi ini dengan turnamen lainnya adalah skema pendaftarannya yang seluruhnya dialokasikan untuk donasi. BAPOMI Bireuen ingin mengubah stigma negatif yang terkadang masih melekat pada dunia game, dengan menunjukkan bahwa melalui interaksi digital, solidaritas sosial dapat dibangun secara efektif. Para pemain tidak hanya bertanding untuk meraih gelar juara, tetapi juga menyadari bahwa setiap pertandingan yang mereka jalani berkontribusi pada penyediaan makanan, pakaian, dan akses pendidikan bagi anak jalanan yang membutuhkan bantuan.
Selama acara berlangsung, suasana kompetisi terasa sangat hangat namun tetap kompetitif. Panitia juga menyediakan kotak donasi tambahan bagi para penonton yang hadir secara daring maupun luring. Gerakan ini menciptakan ekosistem kebaikan yang melibatkan banyak pihak, mulai dari pemain, sponsor lokal, hingga masyarakat umum. BAPOMI Bireuen berhasil memposisikan diri sebagai jembatan antara gaya hidup modern mahasiswa dengan realitas sosial yang ada di sekitar mereka. Kesuksesan acara ini membuktikan bahwa kreativitas dalam berorganisasi dapat melahirkan solusi bagi masalah sosial yang kompleks.
Secara teknis, turnamen MLBB ini dikelola dengan standar profesional, lengkap dengan komentator yang handal dan sistem siaran langsung yang berkualitas. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa pesan sosial yang dibawa dapat menjangkau audiens yang lebih luas. Semakin banyak orang yang menonton, semakin besar peluang untuk mengumpulkan dana tambahan melalui kampanye digital. Strategi ini sangat cerdas karena menyasar kelompok usia produktif yang paling aktif di media sosial, sehingga pesan tentang kepedulian terhadap sesama dapat tersebar secara viral dan organik dalam waktu singkat.
Dana yang terkumpul kemudian disalurkan melalui yayasan sosial lokal yang kredibel untuk memastikan transparansi dan ketepatan sasaran terhadap Anak Jalanan. BAPOMI tidak hanya memberikan bantuan materi, tetapi juga melibatkan para atlet mahasiswa dalam proses pendistribusiannya. Tujuannya adalah agar para mahasiswa memiliki empati yang kuat dan memahami bahwa prestasi di dunia olahraga, baik fisik maupun elektronik, harus memiliki manfaat bagi kemanusiaan. Inisiatif ini menjadi catatan sejarah penting bagi perkembangan organisasi mahasiswa di Bireuen sebagai agen perubahan yang inklusif.