Bireuen dikenal sebagai kota juang yang penuh kreativitas, dan pada gelaran BAPOMI 2026, kota ini memperkenalkan sebuah konsep yang akan mengubah cara pandang kita terhadap limbah olahraga. Melalui program ekonomi sirkular, Bireuen memelopori pengolahan barang-barang yang biasanya dianggap sampah oleh para olahragawan, khususnya sepatu olahraga yang telah rusak atau tidak layak pakai. Fokus program ini adalah mengumpulkan ribuan sepatu bekas dari para atlet mahasiswa untuk diproses kembali menjadi produk-produk fashion dan gaya hidup dengan nilai estetika tinggi yang dikategorikan sebagai barang mewah (high-end upcycled products).
Sektor olahraga adalah salah satu penyumbang limbah tekstil dan karet yang cukup besar. Seorang atlet lari atau pemain bola dapat menghabiskan beberapa pasang sepatu dalam setahun. Biasanya, sepatu yang sudah aus solnya atau robek bagian atasnya akan berakhir begitu saja di tempat sampah. Namun, di bawah arahan BAPOMI Bireuen, material-material tersebut dipilah secara detail. Sol karet yang masih kuat diolah menjadi bagian dari aksesori rumah tangga premium, sementara bagian kulit atau sintetis dari sepatu tersebut dijahit kembali oleh tangan-tangan terampil pengrajin lokal menjadi tas tangan, dompet, hingga jaket dengan desain kontemporer yang sangat diminati oleh pasar mewah yang sadar akan isu lingkungan.
Konsep ekonomi sirkular ini berjalan dengan melibatkan mahasiswa dari fakultas ekonomi dan seni desain di Bireuen. Mereka tidak hanya belajar tentang teori bisnis, tetapi langsung mempraktikkan bagaimana sebuah rantai pasok limbah dapat menghasilkan profit yang signifikan. Sepatu-sepatu bekas yang dikumpulkan melalui kotak drop-off di setiap arena pertandingan dikurasi berdasarkan kualitas materialnya. Produk akhir dari pengolahan ini kemudian dipamerkan di galeri khusus selama pekan olahraga berlangsung. Menariknya, produk-produk ini seringkali memiliki cerita unik karena mencantumkan identitas asli dari atlet pemilik sepatu tersebut, memberikan nilai historis dan emosional bagi para kolektor.
Program ini juga berfungsi sebagai sarana edukasi bagi para atlet mahasiswa mengenai jejak lingkungan dari perlengkapan yang mereka gunakan. Dengan melihat langsung bagaimana sepatu mereka berubah menjadi produk baru yang berharga, para atlet diajarkan untuk lebih menghargai setiap barang yang mereka miliki. BAPOMI Bireuen ingin menciptakan budaya di mana gaya hidup atletik tidak hanya soal kebugaran fisik, tetapi juga tanggung jawab terhadap konsumsi barang. Melalui ekonomi sirkular, Bireuen berhasil menciptakan lapangan kerja baru bagi komunitas difabel dan kelompok ibu rumah tangga di wilayah tersebut yang dilatih untuk melakukan teknik upcycling tingkat lanjut.